DARI SUSI HINGGA JNE: BANGKIT UNTUK BERBAGI

 

Sumber ilustrasi: https://kastara.id/08/05/2020/sulitnya-mewujudkan-kemanusiaan/

            Kemarahan Susi Pudjiastuti tatkala pilot Susi Air, Philip Mark Mehrtens, disandera oleh kelompok separatis di Papua—terhitung hingga tanggal 21 Mei 2023, pilot tersebut masih disandera—menimbulkan kemarahan publik. Dalam keterangannya di sebuah acara talkhow, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia itu begitu marah dan sedih karena akhirnya ia tidak bisa berkontribusi seperti biasanya untuk masyarakat di pedalaman Papua. Hal itu dilandasi persoalan keamanan dan keselamatan kru Susi Air untuk membawa kebutuhan logistik ke sana, ditambah kerusakan instrumen pesawatnya sehingga mengganggu persoalan finansial Susi Air.

            Kiprah Susi Pudjiastuti sangat beragam, beberapa diantaranya adalah penenggelaman kapal pencuri ikan, melarang alat penangkap ikan yang berpotensi merusak lingkungan, dan larangan ekspor benih dan lobster. Tidak hanya itu, beliau turut membantu korban tsunami Aceh pada tahun 2004 silam sekaligus menjadi cikal-bakal dari bisnis aviasinya. Diantara hal yang menarik tersebut, kiprahnya menjadi distributor berbagai kebutuhan di berbagai wilayah di pedalaman Papua, ketika bencana tsunami di Aceh, itulah yang menjadi sorotan. Bagaimana pun, peran distribusi dalam pembangunan dan sirkulasi perekonomian adalah hukum ekonomi yang tidak terbantahkan.

            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, distribusi diartikan sebagai penyaluran (pembagian, pengiriman) kepada beberapa orang atau ke beberapa tempat. Entah distribusi dipandang dalam perspektif kapitalisme maupun sosialisme, distribusi adalah kegiatan yang pada dasarnya adalah persoalan penyaluran, sedangkan landasan ideologisnya adalah mekanisme yang tidak sedikitpun menghilangkan esensi dari konsep distribusi. Posisi distribusi dalam aktivitas ekonomi suatu pemerintahan amatlah penting, alasannya distribusi itu sendiri menjadi tujuan dari kebijakan fiskal dalam suatu pemerintahan (selain fungsi alokasi) (Khoirul Umam, 2023).

            Keterkaitan distribusi dengan semangat Susi Pudjiastuti itulah yang kemudian membuka mata kita tentang sikap altruisme dan kefilantropisan kita untuk membagi kebahagiaan dan kebaikan, khususnya antar sesama manusia. Terlebih di masa pemulihan pasca-pandemi seperti sekarang. Roh itulah yang bisa kita temukan dalam keberagaman usaha semua orang untuk terus mengembangkan diri dan bertahan hidup di dunia yang keras seperti sekarang, salah satunya sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

            Sedikit berbicara tentang statistik UMKM, pada tahun 2022, sektor ini menjadi penyumbang bagi pertumbuhan ekonomi secara nasional. Dalam siaran persnya, sebagaimana dikutip dari laman Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia (2022), dijelaskan bahwa UMKM berperan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, dengan jumlahnya mencapai 99% dari keseluruhan uni usaha. Lebih lanjut, kontribusi UMKM terhadap PDB mencapai 60,5% dan terhadap tenaga kerja mencapai 96,9% dari total penyerapan tenaga kerja nasional. Sehingga, tepat dikatakan bahwa UMKM adalah mesin penggerak ekonomi bangsa.

            Pada sela-sela sirkulasi ekonomi berbasis UMKM tersebut, peran seorang distributor tidak bisa diabaikan. Bagaimana pun, dedikasi dari seorang pendistribusi untuk melewati berbagai rintangan dan segala hambatan, demi kepuasan hati seorang konsumen untuk kedatangan produk yang diinginkannya, serta ditunggu-tunggu dengan sebuah perjalanan baru, tidak perlu diragukan. Nampak sepele, namun itulah yang perlu diapresiasi. Roh itu yang nampaknya tumbuh dan berkembang dalam jiwa PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir, atau dikenal sebagai JNE, sebagai perusahaan distribusi logistik di Indonesia yang telah melayani masyarakat Indonesia dalam urusan kepabeanan, impor, dn distribusi sejak tahun 1990.

            Setelah 33 tahun, JNE masih mempertahankan diri sebagai perusahaan yang bergerak di bidang distribusi dan telah melebarkan sayapnya untuk tetap berkontribusi bagi Indonesia dan masyarakat. Sesuai tagline-nya yaitu “Menghantarkan Kebahagiaan” atau “Connecting Happiness”, JNE turut mendukung UMKM dengan ketepatan dan usahanya menyampaikan “kebahagiaan” itu dengan mengirimkan berbagai barang yang dipercayakan kepadanya hingga aman sampai di tangan konsumen. Bahkan, ketika Covid-19 melanda Indonesia, JNE bekerja sama dan turut-serta dalam membantu penanganan pandemi, seperti donasi, pengiriman kebutuhan media seperti oksigen, dan lainnya.

            Dari Susi Pudjiastuti hingga JNE, kita menemukan beberapa poin inspirasi yang dapat dijadikan teladan bagi para pembaca. Poin-poin tersebut diantaranya adalah dedikasi. Tidak perlu diragukan kembali, bahwa keduanya memiliki dedikasi dalam profesi dan usahanya masing-masing. Sebagai distributor, dedikasi keduanya dalam menjaga amanah para pengguna jasa untuk menghantarkan barang hingga sampai ke tangan konsumen adalah bagian dari roh bisnis dan sikap altruisnya. Barangkali, dedikasinya dalam menjaga kepercayaan dan memberikan manfaat merupakan nafas yang membuat kedua usaha tersebut dapat bertahan hingga hari ini. Dengan demikian, menjaga dedikasi adalah poin yang wajib dimiliki oleh setiap orang, apalagi para entrepreneurship.

            Nilai berikutnya adalah willingness, yaitu kerelaan. Kerelaan di sini adalah kesediaan untuk mengorbankan sesuatu yang dimiliki demi kebahagiaan dan kemaslahatan orang banyak. Mungkin, sebagian orang memandang tindakan ini hanya bisa dilakukan oleh beberapa orang yang memang telah merelakan dirinya terbagi ke dalam lingkup sosial yang lebih luas. Kerelaan untuk mengorbankan diri demi kehidupan publik yang lebih baik, sebagian atau keseluruhan. Namun, nyatanya keadaan ini ada dan subjeknya pun ada, bahkan mungkin mereka ada di sekitar kita.

            Tanggung jawab adalah persoalan cukup sulit bagi seseorang atau kelompok yang tidak terlatih secara mental untuk berani dan melatih menerima risiko serta menanggung setiap dampak dibaliknya. Namun, hal itu tidak bisa digeneralisir begitu saja, karena tidak semua dikatakan tidak bertanggung jawab. Kenyataannya, tuntutan kita sebagai manusia dalam lingkup sosial, memiliki tanggung jawab sosial pula. Semua itu adalah pesan yang hendak disampaikan oleh Susi Pudjiastuti, pun JNE. Apa untungnya? Sekilas itu pertanyaan yang dilontarkan, tapi peduli apa jawabannya ketika semua itu sudah terpuaskan dengan terpenuhinya tanggung jawab tersebut dalam kehidupan sosial. Seperti aPa yang telah dilakukan JNE ketika pandemi Covid-19 kemarin, atau ketika memberikan donasi untuk korban gempa Cianjur beberapa waktu yang lalu. Prinsip itulah yang hendak disampaikan, terkait karakter tanggung jawab yang mesti penuhi.

            Kerja keras dan kecerdasan adalah napas utama bagi seorang entrepreneurship. Tanpa kerja keras, usaha tidak akan mencapai titik optimal, dan tidak sedikit pun mencapai keberhasilan. Tentunya, kerja keras itu meski ditopang oleh pertimbangan yang matang, sehingga kerja keras dan kecerdasan adalah senjata utama dalam kewirausahaan. Pada titik ini, tidak perlu diragukan lagi, bahwa tokoh sekelas Susi Pudjiastuti merupakan seorang pekerja keras yang tentunya sangat cerdas karena dapat menilai peluang dan meraih kesuksesan di dalamnya. Tidak heran bila pengusaha yang (benar-benar) pekerja keras, tidak enteng untuk mempermudah segala sesuatu atau terkadang menyembunyikan evil in detail.

            Terakhir adalah kepemimpinan yang mampu mendorong kepada kemajuan dan progresivitas. Bagaimana pun, corak kepemimpinan sangat berperan penting dalam menunjukan jati diri seseorang. Suatu ketika, Abraham Lincoln pernah berkata bahwa jika kau ingin melihat karakter seseorang, maka berikan ia kekuasaan. Dengan kepemimpinan pula, kita akan melihat watak dan bagaimana ia menjalankan perannya, baik untuk dirinya maupun di luar dirinya. Poin itulah yang coba disampaikan oleh beberapa tokoh-tokoh sukses lainnya, termasuk di dalamnya Susi Pudjiastuti. Dengan latar keluarga dan pendidikan, siapa yang akan menyangka bahwa ia akan menjadi seorang pemimpin yang memiliki corak kepemimpinan yang dirindukan oleh banyak orang, bahkan setelah kepergian beliau dari kementerian.

            Demikianlah nilai-nilai penting kehidupan yang tergambarkan jelas dalam sosok Susi Pudjiastuti. Roh ini pulalah yang kemudian membuat JNE dapat berkembang seperti sekarang dan masih dipercaya hingga kini. Tentunya, semua orang memiliki warna dan coraknya masing-masing dalam menjalankan prinsip hidupnya, namun semua persoalan itu akan kembali bermuara pada apa yang kita kenal sebagai “kemanusiaan”, karena sejatinya apa yang kita bangun dan miliki, setidaknya, dapat menjadi jembatan bagi kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain.

#JNE32tahun, #JNEBangkitBersama dan #jnecontentcompetition2023 #ConnectingHappiness

 

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. (2022, Oktober 1). Perkembangan UMKM sebagai Critical Engine Perekonomian Nasional Terus Mendapatkan Dukungan Pemerintah. Dikutip dari ekon.go.id: https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/4593/perkembangan-umkm-sebagai-critical-engine-perekonomian-nasional-terus-mendapatkan-dukungan-pemerintah

Khoirul Umam, H. K. (2023). Perbedaan Konsep Distribusi dalam Worldview Islam dan Worldview Sekuler. Risalah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam, IX(1), 98-112.

 

 


Komentar